Senin, 14 Mei 2018

Cerpen

Happy With The Grateful


Namaku Keyla, usiaku baru enam belas tahun. Aku anak remaja biasa seperti kalian. Hanya saja aku sedikit berbeda, aku terlahir kedunia ini dengan kondisi  buta. Aku tidak seperti kalian , aku belum pernah melihat semua  keindahan yang sudah kalian lihat di dunia ini .





Coba tutup mata kalian satu menit saja, apa yang kalian lihat? Gelap? Iya itulah yang ku lihat sejak lahir. Hanya kegelapan.

 Sekarang coba bayangkan , bayangkan jika kalian saat ini ada di malam yang dingin dan sepi, dan kalian  berada di sebuah tempat. Sebuah tempat tanpa lampu atau satu lilinpun, tempat  yang sangat gelap ,dan kalian berada  disana sendirian!! 

Apa yang kalian rasakan? Takut? Iya,  ketakutan itulah yang selama ini sudah bertahun tahun ku rasakan,  semuanya terasa sunyi dan sepi , rasanya seperti sendirian seakan tenggelam dalam kegelapan.

Aku sering merasa  iri dengan kalian, aku sangat iri dengan kalian yang sempurna ,  kalian bisa dengan bebas melihat apapun yang ingin kalian lihat. 


# 9 September 2018

Pagi itu Ayah dan Bunda mengajakku ke sebuah panti asuhan, seperti  biasa mereka memberi santunan pada anak-anak yatim yang ada disana. Aku hanya duduk di dekat teras sambil merenung sendirian .

Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar  suara seorang gadis kecil yang memanggil namaku.

"Kak Keyla?" ucapnya dengan lembut.

Aku sempat kaget, Aku tidak tau siapa yang memanggilku , karena aku pun tak bisa melihatnya. Dia lalu memperkenalkan dirinya.

"Hay kak, namaku Aqila. Maaf sebelumnya telah mengagetkanmu. Tapi...Bolehkah aku bertanya padamu kak?"

"Iya , boleh" jawabku.

"Sebenarnya setiap keluarga kakak datang kemari, Aku diam-diam selalu memperhatikan kakak. Kenapa kakak selalu terlihat murung?" tanya gadis kecil itu padaku .

"Kau bisa melihatku kan? Kau pasti tahu kondisiku. Aku tak punya sepasang mata untuk bisa melihat sepertimu". jawabku padanya.

" iya, lantas kenapa kak?
 Aku juga punya keterbatasan seperti kakak.
Aku memang bisa melihat, tapi aku tak punya sepasang kaki ataupun tangan, aku lumpuh sejak lahir.
Aku tidak bisa bergerak bebas seperti kakak . kakak masih punya kaki yang bisa kakak pakai kemanapun kakak pergi .
Asalkan kakak tau, aku juga ingin sekali merasakan bagaimana rasanya berjalan walaupun hanya satu langkah.
 Aku ingin merasakan punya sepasang tangan yang bisa aku gunakan untuk memeluk kedua orang tuaku, tapi sayangnya kedua orang tuaku sekarang sudah meninggal karena kecelakaan waktu itu."
dia mengatakan hal itu hingga air mata mulai jatuh dipipinya.

"Kecelakaan? " tanyaku ingin tahu. 
Dalam hati sebenarnya aku merasa malu mendengar penjelasan dari gadis kecil itu.

"Iya kak, kecelakaan yang terjadi satu tahun yang lalu.
 Waktu itu aku ingin berkunjung ke sebuah kebun binatang, ayah dan ibu menuruti permintaan ku itu. Tapi tak disangka dalam perjalanan kesana. Mobil ayah menabrak sebuah Truk. Dalam kecelakaan itu aku beruntung hanya  mengalami luka ringan,
tapi ada hal yang tak bisa aku lupakan waktu itu , hal itu adalah ketika aku melihat darah mengalir dengan deras dari tubuh ayah dan ibuku , mata mereka sudah terpejam,
seandainya saja aku punya kaki, pasti aku bisa berlari menyelamatkan mereka. seandainya saja aku punya tangan,  pasti aku bisa memeluk mereka untuk yang terakhir kalinya .
 disana aku hanya bisa diam, tak bisa melakukan apapun untuk mereka. Aku hanya bisa menangis melihat mereka tergeletak penuh darah, aku melihat kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi tewas dihadapanku , aku tak bisa melakukan apapun karena aku lumpuh,
aku merasa sangat malu pada diriku yang tidak berguna ini, aku merasa bersalah pada ayah dan ibu yang telah membesarkanku.
tapi apa yang aku lakukan untuk mereka  ? aku bahkan  tak bisa berbuat apapun hingga mereka menghembuskan nafas terakhirnya .
tapi aku mencoba untuk tetap semangat menjalani hidupku yang sekarang. Aku bersyukur karena setidaknya Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup , kakak juga harus tetap semangat. Jangan bersedih..kakak berhak bahagia " ucapnya dengan tulus.

Dia masih menangis . sebenarnya Hati kecilku juga menangis mendengar semua cerita menyedihkan itu, aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku yang ada diposisinya. Pasti aku tidak akan mampu seperti dia.

Aku langsung memeluknya supaya dia bisa merasa sedikit tenang. Tapi tiba-tiba ayah dan bunda mengajakku untuk segera pulang. Aku kemudian berpamitan pada Aqila.

Sejak hari itu, aku sadar bahwa ada banyak orang yang hidupnya lebih sulit daripada aku.


# 12 September 2018
Tak terasa seminggu lagi adalah hari ulang tahunku , Ayah dan Bunda memberikanku sebuah kertas. Mereka menyuruhku untuk menuliskan hadiah apa yang ku inginkan di hari ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun.

Jika kalian jadi aku, apa yang akan kalian tulis? HP keluaran terbaru? Montor? Mobil? Baju bagus? Sepatu? Tas? Perhiasan? Tidak.. Aku sama sekali tidak memerlukan semua itu.

Aku cukup menulis satu keinginan kecilku disana
"Aku tidak ingin hadiah apa-apa dari kalian.
Bagiku , punya seorang Ayah dan Bunda seperti kalian sudah menjadi kebahagiaan terbesarku.
Satu harapan kecilku. Aku hanya ingin ayah dan bunda tetap sehat agar bisa selalu menemaniku .
seandainya ada sebuah keajaiban, aku  ingin sekali bisa melihat kalian dengan kedua mataku ,
 aku ingin membuat kalian bahagia sebelum suatu saat nanti  kalian pergi meninggalkanku sendirian di dunia ini,ketika kalian pergi ke syurga untuk selamanya ".

Hanya itu yang dapat kutuliskan untuk mereka . Ayah dan Bunda menangis dan memelukku setelah membacanya.

Aku memang terlahir buta, Tapi aku masih beruntung karena masih punya keluarga yang sangat menyayangiku,setidaknya aku punya Ayah dan Bunda yang selalu ada untukku.

Sadarlah.. saat kau terus mengeluh tentang hidupmu , diluaran sana ada banyak orang yang lebih menderita darimu, bahkan mungkin mereka  ingin berada di posisimu. 

Bisa saja hidup yang selalu kau keluhkan itu adalah hidup yang orang lain inginkan .Ingatlah Jika kita mampu bersyukur dengan apapun yang kita punya , maka hidup akan selalu terasa bahagia .


                                                                                   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen

Selembar Surat Wanita jahat itu, dia masih saja begitu egois, bahkan dia masih bisa merasa senang saat suaminya meninggal. Syukurla...