Senin, 14 Mei 2018

Cerpen

Happy With The Grateful


Namaku Keyla, usiaku baru enam belas tahun. Aku anak remaja biasa seperti kalian. Hanya saja aku sedikit berbeda, aku terlahir kedunia ini dengan kondisi  buta. Aku tidak seperti kalian , aku belum pernah melihat semua  keindahan yang sudah kalian lihat di dunia ini .





Coba tutup mata kalian satu menit saja, apa yang kalian lihat? Gelap? Iya itulah yang ku lihat sejak lahir. Hanya kegelapan.

 Sekarang coba bayangkan , bayangkan jika kalian saat ini ada di malam yang dingin dan sepi, dan kalian  berada di sebuah tempat. Sebuah tempat tanpa lampu atau satu lilinpun, tempat  yang sangat gelap ,dan kalian berada  disana sendirian!! 

Apa yang kalian rasakan? Takut? Iya,  ketakutan itulah yang selama ini sudah bertahun tahun ku rasakan,  semuanya terasa sunyi dan sepi , rasanya seperti sendirian seakan tenggelam dalam kegelapan.

Aku sering merasa  iri dengan kalian, aku sangat iri dengan kalian yang sempurna ,  kalian bisa dengan bebas melihat apapun yang ingin kalian lihat. 


# 9 September 2018

Pagi itu Ayah dan Bunda mengajakku ke sebuah panti asuhan, seperti  biasa mereka memberi santunan pada anak-anak yatim yang ada disana. Aku hanya duduk di dekat teras sambil merenung sendirian .

Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar  suara seorang gadis kecil yang memanggil namaku.

"Kak Keyla?" ucapnya dengan lembut.

Aku sempat kaget, Aku tidak tau siapa yang memanggilku , karena aku pun tak bisa melihatnya. Dia lalu memperkenalkan dirinya.

"Hay kak, namaku Aqila. Maaf sebelumnya telah mengagetkanmu. Tapi...Bolehkah aku bertanya padamu kak?"

"Iya , boleh" jawabku.

"Sebenarnya setiap keluarga kakak datang kemari, Aku diam-diam selalu memperhatikan kakak. Kenapa kakak selalu terlihat murung?" tanya gadis kecil itu padaku .

"Kau bisa melihatku kan? Kau pasti tahu kondisiku. Aku tak punya sepasang mata untuk bisa melihat sepertimu". jawabku padanya.

" iya, lantas kenapa kak?
 Aku juga punya keterbatasan seperti kakak.
Aku memang bisa melihat, tapi aku tak punya sepasang kaki ataupun tangan, aku lumpuh sejak lahir.
Aku tidak bisa bergerak bebas seperti kakak . kakak masih punya kaki yang bisa kakak pakai kemanapun kakak pergi .
Asalkan kakak tau, aku juga ingin sekali merasakan bagaimana rasanya berjalan walaupun hanya satu langkah.
 Aku ingin merasakan punya sepasang tangan yang bisa aku gunakan untuk memeluk kedua orang tuaku, tapi sayangnya kedua orang tuaku sekarang sudah meninggal karena kecelakaan waktu itu."
dia mengatakan hal itu hingga air mata mulai jatuh dipipinya.

"Kecelakaan? " tanyaku ingin tahu. 
Dalam hati sebenarnya aku merasa malu mendengar penjelasan dari gadis kecil itu.

"Iya kak, kecelakaan yang terjadi satu tahun yang lalu.
 Waktu itu aku ingin berkunjung ke sebuah kebun binatang, ayah dan ibu menuruti permintaan ku itu. Tapi tak disangka dalam perjalanan kesana. Mobil ayah menabrak sebuah Truk. Dalam kecelakaan itu aku beruntung hanya  mengalami luka ringan,
tapi ada hal yang tak bisa aku lupakan waktu itu , hal itu adalah ketika aku melihat darah mengalir dengan deras dari tubuh ayah dan ibuku , mata mereka sudah terpejam,
seandainya saja aku punya kaki, pasti aku bisa berlari menyelamatkan mereka. seandainya saja aku punya tangan,  pasti aku bisa memeluk mereka untuk yang terakhir kalinya .
 disana aku hanya bisa diam, tak bisa melakukan apapun untuk mereka. Aku hanya bisa menangis melihat mereka tergeletak penuh darah, aku melihat kedua orang tuaku yang sangat aku sayangi tewas dihadapanku , aku tak bisa melakukan apapun karena aku lumpuh,
aku merasa sangat malu pada diriku yang tidak berguna ini, aku merasa bersalah pada ayah dan ibu yang telah membesarkanku.
tapi apa yang aku lakukan untuk mereka  ? aku bahkan  tak bisa berbuat apapun hingga mereka menghembuskan nafas terakhirnya .
tapi aku mencoba untuk tetap semangat menjalani hidupku yang sekarang. Aku bersyukur karena setidaknya Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup , kakak juga harus tetap semangat. Jangan bersedih..kakak berhak bahagia " ucapnya dengan tulus.

Dia masih menangis . sebenarnya Hati kecilku juga menangis mendengar semua cerita menyedihkan itu, aku tak bisa membayangkan bagaimana jika aku yang ada diposisinya. Pasti aku tidak akan mampu seperti dia.

Aku langsung memeluknya supaya dia bisa merasa sedikit tenang. Tapi tiba-tiba ayah dan bunda mengajakku untuk segera pulang. Aku kemudian berpamitan pada Aqila.

Sejak hari itu, aku sadar bahwa ada banyak orang yang hidupnya lebih sulit daripada aku.


# 12 September 2018
Tak terasa seminggu lagi adalah hari ulang tahunku , Ayah dan Bunda memberikanku sebuah kertas. Mereka menyuruhku untuk menuliskan hadiah apa yang ku inginkan di hari ulang tahunku yang ke tujuh belas tahun.

Jika kalian jadi aku, apa yang akan kalian tulis? HP keluaran terbaru? Montor? Mobil? Baju bagus? Sepatu? Tas? Perhiasan? Tidak.. Aku sama sekali tidak memerlukan semua itu.

Aku cukup menulis satu keinginan kecilku disana
"Aku tidak ingin hadiah apa-apa dari kalian.
Bagiku , punya seorang Ayah dan Bunda seperti kalian sudah menjadi kebahagiaan terbesarku.
Satu harapan kecilku. Aku hanya ingin ayah dan bunda tetap sehat agar bisa selalu menemaniku .
seandainya ada sebuah keajaiban, aku  ingin sekali bisa melihat kalian dengan kedua mataku ,
 aku ingin membuat kalian bahagia sebelum suatu saat nanti  kalian pergi meninggalkanku sendirian di dunia ini,ketika kalian pergi ke syurga untuk selamanya ".

Hanya itu yang dapat kutuliskan untuk mereka . Ayah dan Bunda menangis dan memelukku setelah membacanya.

Aku memang terlahir buta, Tapi aku masih beruntung karena masih punya keluarga yang sangat menyayangiku,setidaknya aku punya Ayah dan Bunda yang selalu ada untukku.

Sadarlah.. saat kau terus mengeluh tentang hidupmu , diluaran sana ada banyak orang yang lebih menderita darimu, bahkan mungkin mereka  ingin berada di posisimu. 

Bisa saja hidup yang selalu kau keluhkan itu adalah hidup yang orang lain inginkan .Ingatlah Jika kita mampu bersyukur dengan apapun yang kita punya , maka hidup akan selalu terasa bahagia .


                                                                                   


Cerpen

Simpul Waktu


Kalau saja dulu… kenapa aku tidak melakukan itu saja di masa laluku dulu.

Itulah yang selalu ada di pikirkanku, ada sebuah penyesalan. Kenapa? Karena banyak masalah semenjak aku ada di SMK ini. Rasanya aku ingin sekali kembali ke SMP. 

Sekali saja waktu itu bisa terulang. Aku pasti bisa mengubah hal-hal untuk mencegahku terjerumus dalam masalah seperti sekarang ini.

Aku sedang berjalan sepulang sekolah sambil berfikir tentang masalahku. Aku memang berjalan pulang sendiri. Tanpa teman. Teman-teman di kelasku menjauhiku. Namun aku sudah terbiasa. Jadi aku tetap berjalan menyusuri jalanan ini. Sore hari yang melelahkan, ah.. mungkin karena lelah aku jadi mengeluh seperti ini.

Sore itu aku melihatnya lagi, seekor kucing yang akhir-akhir ini selalu terlihat muncul di rumah kosong itu, entah mengapa dia selalu berada di tempat yang sama saat aku melihatnya dalam perjalanan pulang, 

aku menoleh ke belakang karena terdengar suara sirine dari arah belakang, tidak ada apa apa.
 Saat ku lihat kembali kucing itu, tiba-tiba ia berlari ke arahku, aku terkejut, dia seperti akan mencakarku. Aku melompat menjauh menghindarinya,

 tiba-tiba terdengar suara rem berdecit, setelah aku menyadari ternyata aku sudah berada di tengah jalan, untung saja,  aku hampir tertabrak mobil pemadam kebakaran. Jantungku berdebar-debar, pengemudi mobil itu pun melanjutkan perjalanannya, aku pun juga berjalan pulang.

Mana tadi kucing  yang mengagetkanku? aku tidak melihatnya lagi.
Belum lama aku berjalan, aku melihat beberapa orang berkerumun membicarakan sesuatu di jalan yang biasanya sepi ini. Aku sempat mendengarkan sedikit samar pembicaraannya saat melintas di dekat mereka. 

Aku tidak terlalu peduli, tetapi saat aku melihat salah seorang menunjuk ke suatu arah, aku baru menyadari

“ Hah? sejak kapan aku tidak menyadari ada asap tebal membumbung di sana? Tunggu, bukankah itu arah rumahku? 

Aku pun langsung berlari menuju rumahku. Banyak mobil pemadam kebakaran berhenti di depan pintu masuk gang rumahku, sepertinya mobil mereka terlalu besar untuk bisa masuk ke dalam. 

Banyak orang berjejal di sana, aku pun menerobos masuk ke gang rumahku. Perasaanku tidak karuan, entah kesialan apa ini, rasanya mau copot jantungku.

rumahku terbakar, bukankah keluargaku ada di dalam? Apakah mereka sudah keluar? tidak, aku tidak melihatnya tadi di luar. Aku mendengar petugas pemadam yang berkata kepada rekannya,

“Masih ada orang di dalam”

Aku sampai tidak bisa bertanya kepada petugas itu, bibirku terasa bergetar, pikiranku hanya tertuju pada keluargaku. Ibu? Kau masih di dalam?

Tanpa berpikir sama sekali aku langsung berlari memasuki rumah yang penuh dengan kobaran api, sepertinya petugas itu memanggilku tetapi aku tidak mendengarnya, mungkin karena pikiranku hanya tertuju pada keluargaku. 

Di dalam terasa sangat panas dan sesak, aku menuju ruang tengah, susahnya bukan main, rasanya tubuh ini sudah ingin menyerah. Aku tidak bisa bernapas, pandanganku kabur, ternyata aku sudah terbaring di lantai, bukannya tadi aku sedang berlari? 

Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, sepertinya ini akhir hidupku, menyedihkan sekali. Bahkan aku belum selesai dengan masalahku. Tanpa ku sadari aku sudah terpejam.


#simpul waktu
“Kak! Kak!” sepertinya suara adikku.

“iya!” ucapku saat mulai membuka mata.

“Loh, malah ketiduran, gimana sih? Ini gimana Kak caranya?”  itu suara adikku.

Apa ini?  Sepertinya aku baru saja terbangun dari tidur di sofa, 

apakah kebakaran tadi cuma mimpi? Tapi terasa begitu nyata, apa mungkin karena aku kelelahan di hari yang menyebalkan ini. Tapi apa yang sedang ku lakukan sekarang?

 Adikku berteriak lagi.
“Kak? Belum bangun ya? 
Kok cuma bengong gitu?
 Gimana soal ini? 
Besok tugas ini harus dikumpulkan ke Bu Ina,
 Kakak tahu kan Bu Ina itu gimana kalau soal tugas?

” Hah? Bu Ina? Bukannya itu guru SD nya adikku?” 
seketika aku menjadi bingung .

“Tugas apa Dik? 
Bukannya sudah nggak ketemu Bu Ina lagi? 
Memangnya sekarang Bu Ina pindah mengajar SMP?”

“Bicara apa sih Kakak? 
Lagi ngelantur ya? 
Bu Ina enggak mengajar SMP-lah, kan dia guru SD-ku, gimana sih?” ucap adikku.

“ Loh? Tunggu, sekarang kapan?”.
Aku berdiri tersentak, adikku sedikit takut, mungkin karena ekspresi wajahku. 

Aku melihat sekeliling, seperti orang kebingungan. Sudah ku pastikan, setelah melihat HP dan yang lainnya sepertinya aku kembali ke masa lalu.

Sepertinya aku kembali ke waktu aku kelas 2 SMP, aku tidak percaya.

 “Apakah aku sudah mati? 
Kebakaran itu nyata kan? 
Tunggu, bukankah ini yang ku inginkan?
 Penyesalanku selama ini dan aku kembali ke masa SMP ini, bukankan ini keluhanku tadi saat berjalan pulang?
 Ini adalah kesempatanku! 
Akan ku perbaiki semua hal yang seharusnya ku lakukan,
 aku sangat senang. aku pun kembali ke adikku dan meminta maaf untuk tadi.

“Tadi sepertinya Kakak terbawa mimpi aneh haha,”

 Beberapa hari telah berlalu, ku jalani saat-saat ini dengan mudah, kejadian yang terjadi pun sama seperti yang ada di masa lalu dan ingatanku dulu. 
Pelajaran pun sangat mudah karena hanya pelajaran SMP, sepertinya aku bisa menjadi ranking 1 di sini haha, tapi akan aneh jika itu ku lakukan.

Tak terasa semenjak berulangnya waktu itu, aku memperbaiki kesalahan yang ku buat.

 Kini, aku bahagia. Siap menjalani semuanya untuk yang kedua kalinya. Suatu hari, cowok yang ku suka memberiku sebuah kado. Karena penasaran, aku segera membukanya. Isinya adalah sebuah jam tangan. 


Wah.. Dengan senang hati aku memakainya.
 Hari-hari pun berlalu, aku semakin bahagia atas perputaran waktu ini. 

Besok adalah hari Ujian kenaikan kelas , aku tidak belajar karena tentu aku sudah SMK,sehingga segalanyajadi  mudah di sini, lagi pula kalau nilaiku mencolok jadi aneh nantinya, aku tidur lebih awal.
Tidur ku waktu itu terasa sangat nyenyak .


#simpul waktu

“Kak?” terdengar suara yang sedikit samar.

 “Akhirnya dia membuka matanya,” ucap seseorang yang ada didekatku.

 Mataku terasa berat untuk melihat apa yang sedang terjadi,
 apakah karena aku tidur terlalu banyak?  Tubuhku lemas, 

sepertinya ada banyak orang di kamarku. 
Tunggu, lampu kamarku bukan seperti itu, ini di kamar kan? 
Aku bertanya, tetapi mulutku susah mengeluarkan suara.

“Ini dimana?
 Apa yang terjadi?” .
 Mataku sekarang lebih terbuka lebar, apakah ini di rumah sakit? 
Apa yang terjadi?”

“Kau mengalami kecelakaan Nak,” kata ibuku pelan.Syukurlah kau sudah sadar, istirahat dulu nak.

” Sepertinya semua keluargaku ada di sini, kecelakaan? Kapan?” 
Rasanya Otakku terlalu lemas untuk berpikir, kemudian aku tertidur lagi.

Beberapa hari berlalu, sepertinya kondisi tubuhku sudah cukup baik, aku bertanya kepada Ibuku

“Apa yang terjadi padaku Bu? 
Apa aku Kecelakaan ? kapan?”

Ibuku pun menjelaskan  

“Kemarin Jumat sore saat pulang dari kegiatan Pramuka disekolah, kamu tertabrak mobil pemadam kebakaran yang sedang terburu-buru, lukamu cukup parah, kamu pingsan hingga 3 hari, tapi sepertinya sekarang sudah cukup baik , syukurlah tidak sampai cidera otak, mungkin lusa kamu sudah bisa pulang ke rumah nak,”

Mendengar penjelasan Ibuku , aku tidak mengatakan sepatah kata pun. aku hanya bisa memegang kepalaku sambil memikirkan apa yang sebenarnya terjadi

Apa semua itu hanya mimpi?
 Lalu bagaimana dengan perputaran waktu itu? 
Tunggu, mobil pemadam kebakaran? Rumahku?! 
Tapi sepertinya semua anggota keluarga ada di sini.

“Aah”… Aku menghela napas. Tidak usah terlalu dipikirkan, mungkin otakku sedang rusak karena kecelakaan ini. 

Dua hari kemudian aku diperbolehkan pulang, ternyata rumahku baik-baik saja. Haha mimpi yang mengerikan dan aneh pikirku, mungkin aku terlalu banyak menonton film.

Keesokan harinya pun aku sudah berangkat sekolah, sepertinya teman-teman mencemaskanku, ternyata mereka tidak seburuk yang ku kira, kenapa ya dulu aku berpikir mereka menjauhiku. 

Saat jam olah raga aku belum boleh mengikutinya, jadi aku hanya duduk sambil melihat-lihat, sepertinya mimpi yang kemarin itu menyadarkanku bahwa kehidupanku yang sekarang ini pun tidaklah terlalu buruk.

Setelah beberapa saat salah satu temanku menghampiriku, dia bertanya.

“Irma, Kurang berapa menit lagi jam olah raganya ?”

“Aku tidak tahu, kenapa bertanya kepadaku?” jawabku agak bingung.

“Lah, kan kamu pakai jam tangan,”

“Jam tangan?”
Aku kebingungan, loh kok aku punya jam tangan. Aku melihat jam yang tak ku sadari ada di tanganku.

Tunggu... ini kan, jam tangan hadiah yang ada di mimpiku.jadi Itu semua nyata??
Tamat
Banyak sekali orang yang ingin mengulang waktu untuk memperbaiki segala sesuatu di kehidupan nya , kadang mereka tak sadar bahwa waktunya itu berharga, hingga dengan santai nya mereka menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal  yang sama sekali tidak berguna .
Sadarlah!!! tiap detik yang terjadi di hidupmu itu berharga. 
karena hidup mu  ini Nyata, kau tidak hidup dalam sebuah cerita ataupun dongeng  ,dimana waktu  bisa semudah itu diulang kembali . 

Kau berhak bahagia , nikmati waktu yang telah Tuhan berikan untukmu, gunakan dengan baik semaksimal mungkin hingga tak akan ada sebuah rasa penyesalan



Minggu, 13 Mei 2018

Cerpen

I Just Need a Little Attention


Derasnya hujan mungkin bisa membuat tanah yang ada didaratan tinggi jatuh merosot kebawah, namun hujan tak akan mampu mengilangkan rasa duka nan lara.
Mungkin itulah yang menggambarkan kisah seorang gadis bernama Rosa , yang hidup dengan ibu dan kedua kakaknya.

Tok tok tok
"Kakak?" ucap Rosa.

Gadis cilik itu berjalan menghampiri sang kakak,menghambur kedalam pelukan kakaknya yang sedang duduk dikursi roda .
"Rosa, kalo kamu enggak mau ngelakuin ini,maka tolong jangan lakuin semua ini! Kakak rela meninggal dari pada ngelihat kamu menderita". Ujar sang kakak sambil mengelus  rambut sang adik.

Dalam hatinya dia bicara.
“Andai kau tau,aku menangis bukan karena ginjal kiriku yang akan diambil. Tapi aku menangis, menangis karna merasa prihatin akan nasib hidupku. Setelah sekian banyak yang ku korbankan untuknya mulai dari hati,jantung hingga ginjal. Namun semua terasa tak ada apa-apanya.”

Rosa merasa elusan dikepalanya terhenti. Ia menoleh kebelakang.

"Kakak!!" teriaknya kaget melihat sang kakak pingsan diatas kursi roda
"TOLONG! Tolong! Kakak bangun! Kakak bangun! Aku mohon "

Ibunya lalu datang
"Rosa, kamu apakan kakamu?!"sang ibu memeluk tubuh Nina yang tak berdaya
"Rosa! Jawab kau apakan kakakmu?!"
Rosa menggeleng  "aku tidak melakukan apa-apa ibu, aku bersumpah"
ucapnya berlinang air mata.
"BOHONG!! Kau pasti menyakitinya,Rosa kenapa kmu lakukan semua ini? Dia kakakmu! Kenapa ? Kalau kamu tak ingin memberikan ginjalmu pdanya ya bilang saja! Jangan menyakitinya seperti ini! Ibu kecewa padamu!"
sang ibu pergi meninggalkan Rosa yang tertunduk lemas dilantai.

"kakak juga kecewa padamu!"ucap kak Yoga sambil membopong tubuh Nina.

Rosa tertunduk,air mata jatuh membasahi pipinya. Dalam hatinya dia bicara.
“Ibu apakah kau akan melakukan hal yang sama bila aku yang berada diposisi kak Nina?
Ibu,bukankah aku juga anakmu? lantas mengapa kau tak pernah peduli padaku?aku memang tak sehebat kak Yoga yg mampu mendapat beasiswa dijepang,aku juga tak secantik kak Nina ,tapi aku ini anakmu! Aku juga darah dagingmu! Bukankah aku juga pantas mendapat pelukanmu? Bukankah aku juga pantas mendapat kasih sayangmu? Lantas kemana semua itu?!”



#Ruang Operasi


"Rosa ,ibu mohon, ibu mohon berikan ginjalmu untuk kakakmu Nina! ibu tau kau sudah memberikan semuanya.tapi ibu mohon satu kali ini saja! Tolong berikan ginjalmu! ibu mohon!". Sang ibu menggenggam erat kedua tangan Rosa
"ibu mohon" sang ibu memeluk erat tubuhnya.

Dalam hatinya Rosa ingin menangis .
”Pelukan ini? Pelukan yang slalu kuimpikan.tapi aku tak mau kau menyayangiku karena aku memberikan ginjalku pada kak Nina. Aku ingin kau menyayangiku ! Aku ingin kau menyayangiku tulus dari hatimu bukan karena perngorbananku.”

"Maaf bu,tapi aku tak bisa". Rosa melepaskan pelukannya
"aku tak akan pernah memberikan ginjalku padanya, maaf"

"Apa kamu bilang??"PLAK!!
Rosa mendapatkannya tamparan dipipinya
 "dasar anak durhaka! Pergi kau! Mulai saat ini kau bukan anakku lagi!"
"Ibu"
"Aku bukan lagi ibumu!"ucap sang ibu berjalan menjauh
"kakak?"
"Kaka kecewa padamu"ucap kak yoga kemudian melangkah menjauhinya

"Tuhan !! tak sadarkah mereka? Sadarkah mereka bila aku terluka? Tak taukah kalian rasa sakit yang ku terima?rasa sakit saat jarum,gunting dan alat-alat lainnya menggores kulitku. Lalu pernahkah kalian tersenyum ataupun menengokku saat aku tersadar setelah melakukan operasi. Yang ada dalm pikiran kalian hanya kak Nina, tak pernah ada aku! Rosa tak akan pernah menggantikan kak Nina dihati kalian semua'

#21 Desember 2018
Semua orang berada di sebuah ruangan bernuansa putih. Operasi pencangkokan ginjal telah terlewati

"Ibu merasa bahagia,ibu sangat brterima kasih kepada orang yang dengan suka rela memberikan ginjalnya padamu" ucap sang ibu pada Nina.
"Apa maksud ibu? Mana Rosa? Bukankah hari ini adalah hari ultah aku dan Rosa, ini hari ultah kita berdua ?ibu ,mana Rosa?"
"Ibu tak tau"

"Maaf nyonya,sebenarnya non Rosa sudah meninggal" ucap sang bibi.
"ini surat dari beliau"sang bibi memberikan sebuah surat. sang ibu membuka lalu membacanya dengan keras.

“Dear semuanya
Hai ibu , hai kak Yoga,hai kak Nina?kalian baik-baik aja kan? Gimana operasinya? Berjalan lancarkan? Ka Nina,gimana ginjalnya? Cocokkan?iya kan?
Sebelumnya ,aku mau ngucapin trimakasih sama ibu.
Ibu,makasih udah mau ngelahirin Rosa. Makasih selama ini mau ngebesarin Rosa.
Ibu, Rosa tau Rosa engga sehebat kak Yoga , Rosa juga enggak secantik kak Nina.
Tapi Rosa juga anak ibu.
Rosa juga pengen dipeluk
Rosa juga pengen dapet ucapan selamat kalo Rosa dapet juara dikelas. Rosa selalu ngrasa iri sama kak Yoga ataupun kak Nina yang slalu dapet perhatian lebih dari ibu.
Ibu , Rosa pengen ibu meluk Rosa. Rosa pengen ibu nyium pipi Rosa.
Ibu , Rosa sayang banget sama ibu. Rosa bahagia pas ibu meluk Rosa waktu dirumah sakit waktu itu.
Ibu , Rosa sayaaaang banget sama ibu. Ginjal yang aku berikan buat kak Nina itu hadiah ulang tahun dari aku buat kak Nina.
Selamat tinggal semuanya ,makasih udah mau jadi keluarga Rosa. Rosa sayang ibu, kak Yoga juga kak Nina.”

Sang ibu kemudian menangis dan memeluk erat jenazah Rosa yang sudah terbaring dikamar jenazah. Didekap , diciumnya berkali-kali wajah anaknya itu.
" Rosa ,ibu sayang sama kamu nak. Maafin ibu karna ibu udah ngelupain kamu, ibu menyesal karena ibu sama sekali tak pernah memberikan perhatian dan kasih sayang buat kamu.ibu merasa  bodoh. bagaimana mungkin ibu menyia-nyiakan malaikat kecil yang sudah Tuhan berikan. Rosa maafin ibu sayang" ucapnya tulus.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Kasih ibu sepanjang masa. Namun ada kalanya kasih itu tertutup oleh egonya.

Cerpen

Selembar Surat Wanita jahat itu, dia masih saja begitu egois, bahkan dia masih bisa merasa senang saat suaminya meninggal. Syukurla...